Dalam
industri pertambangan, efisiensi operasional alat berat tidak hanya dipengaruhi
oleh produktivitas unit, kondisi jalan angkut, dan keterampilan operator,
tetapi juga oleh efektivitas sistem pengisian bahan bakar (refuelling). Jarak
perjalanan dari area kerja menuju fasilitas pengisian bahan bakar dapat
memengaruhi waktu produktif alat berat, konsumsi solar, kebutuhan kendaraan
pendukung, serta biaya operasional harian.
Salah
satu strategi yang dapat diterapkan adalah penempatan portable fuel station
atau stasiun pengisian bahan bakar portabel pada lokasi yang lebih dekat dengan
area operasi. Penempatan yang tepat dapat mengurangi perjalanan khusus untuk
pengisian bahan bakar, memperpendek waktu layanan, dan membantu meningkatkan
ketersediaan unit.
Namun,
fasilitas ini tidak cukup ditempatkan hanya berdasarkan jarak terdekat.
Perusahaan perlu mempertimbangkan distribusi alat berat, pola pergerakan unit,
kapasitas penyimpanan, akses kendaraan tangki, keselamatan kerja, serta
ketentuan pengelolaan bahan bakar yang berlaku.
1. Memahami Peran Portable Fuel Station dalam
Operasi Tambang



12
Portable
fuel station merupakan fasilitas penyimpanan dan penyaluran bahan bakar yang
dirancang agar dapat dipindahkan atau ditempatkan secara fleksibel sesuai
kebutuhan operasional. Bentuknya dapat berupa tangki modular, tangki
berpelindung, atau unit penyaluran bahan bakar dengan pompa, meter, selang, dan
perlengkapan keselamatan.
Dalam
kegiatan pertambangan, fasilitas ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung
pengisian bahan bakar pada:
- Excavator dan wheel loader.
- Bulldozer dan motor grader.
- Dump truck serta kendaraan
pendukung yang kompatibel dengan sistem pengisian.
- Unit pemeliharaan jalan dan
peralatan operasional lainnya.
Penerapannya
sangat relevan pada tambang terbuka dengan area kerja yang luas, lokasi
penggalian yang berpindah-pindah, atau jarak yang cukup jauh antara area
operasi dan fasilitas pengisian utama.
Tujuan utamanya
bukan sekadar mendekatkan bahan bakar ke alat berat, melainkan mengurangi waktu
nonproduktif tanpa menambah risiko keselamatan, pemborosan bahan bakar, atau
biaya logistik yang tidak terkendali.
2. Mengapa Jarak Refuelling Memengaruhi
Produktivitas?
Ketika
alat berat harus meninggalkan area kerja untuk mengisi bahan bakar, terdapat
beberapa komponen waktu yang perlu diperhitungkan:
- Waktu perjalanan menuju
fasilitas pengisian.
- Waktu antre sebelum
pengisian.
- Waktu pengisian bahan bakar.
- Waktu pemeriksaan atau
administrasi.
- Waktu perjalanan kembali
menuju area kerja.
Pada unit
produksi seperti excavator dan dump truck, perjalanan khusus untuk pengisian
bahan bakar dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk kegiatan utama.
Dampaknya menjadi lebih signifikan ketika jumlah unit banyak, jarak fasilitas
cukup jauh, dan kebutuhan pengisian terjadi secara bersamaan.
Sebagai
ilustrasi, apabila satu unit membutuhkan 20 menit perjalanan pulang-pergi, maka
lima kejadian pengisian dalam satu minggu operasi dapat menghabiskan 100 menit
hanya untuk perjalanan tersebut. Angka ini belum mencakup antrean dan waktu
pengisian.
Dengan
demikian, evaluasi jarak refuelling perlu dilakukan sebagai bagian dari
analisis produktivitas dan biaya operasi alat berat.
3. Strategi Menentukan Lokasi Fuel Station Portabel



8
Penentuan
lokasi fuel station portabel perlu didasarkan pada data operasional, bukan
hanya pertimbangan geografis. Lokasi yang ideal adalah lokasi yang mengurangi
waktu perjalanan refuelling, mudah dijangkau kendaraan pemasok, dan memenuhi
persyaratan keselamatan serta lingkungan.
A. Pemetaan distribusi alat berat
Langkah
pertama adalah mengidentifikasi posisi dan pola pergerakan unit yang
membutuhkan bahan bakar. Data yang perlu dikumpulkan meliputi:
- Koordinat area kerja utama
dan lokasi unit.
- Jumlah unit berdasarkan
jenis alat berat.
- Konsumsi bahan bakar
rata-rata per jam.
- Jam operasi harian dan pola
pergantian shift.
- Frekuensi pengisian bahan
bakar.
- Jarak perjalanan ke
fasilitas pengisian saat ini.
Data
tersebut dapat divisualisasikan menggunakan GIS untuk mengidentifikasi kelompok
unit dengan kebutuhan refuelling tertinggi.
B. Analisis jarak dan waktu perjalanan
Lokasi
stasiun sebaiknya dievaluasi berdasarkan jaringan jalan aktual, bukan hanya
jarak lurus pada peta. Jalan tambang dapat memiliki batas kecepatan, tanjakan,
tikungan, pembatasan kendaraan, dan kondisi permukaan yang memengaruhi waktu
perjalanan.
Beberapa
alternatif lokasi dapat dibandingkan berdasarkan waktu tempuh, akses kendaraan
pemasok, kemudahan manuver, serta potensi gangguan terhadap lalu lintas
produksi.
C. Menentukan area pelayanan
Setiap
lokasi fuel station perlu memiliki area pelayanan yang jelas. Misalnya, satu
fasilitas melayani kelompok excavator dan bulldozer pada area penggalian
tertentu, sedangkan fasilitas lain melayani unit di area kerja yang terpisah.
Pembagian
tersebut bertujuan mengurangi perjalanan silang dan mencegah penumpukan unit
pada satu titik pengisian.
D. Memperhitungkan perubahan area tambang
Area
kerja pertambangan dapat berpindah seiring kemajuan penggalian dan perubahan
rencana produksi. Oleh sebab itu, penempatan fasilitas portabel perlu
dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan pit, kemajuan front kerja,
dan perubahan jalur angkut.
4. Membandingkan Alternatif Sistem Refuelling
Tidak
semua kondisi tambang membutuhkan stasiun portabel yang ditempatkan secara
permanen. Perusahaan dapat memilih sistem yang paling sesuai dengan
karakteristik operasi.
|
Sistem refuelling |
Keunggulan |
Pertimbangan |
|
Fuel
station utama |
Pengawasan
dan pengendalian stok terpusat |
Jarak
perjalanan dapat menjadi panjang |
|
Portable
fuel station |
Lebih
fleksibel dan dapat mendekati area operasi |
Memerlukan
lokasi aman, pengendalian stok, dan pengelolaan fasilitas |
|
Mobile
refuelling truck |
Dapat
melayani unit di beberapa lokasi |
Membutuhkan
pengaturan rute, akses, dan jadwal layanan |
|
Sistem
kombinasi |
Menggabungkan
fasilitas utama dengan layanan dekat area kerja |
Memerlukan
koordinasi distribusi dan pengawasan yang baik |
Pada tambang dengan area kerja yang relatif tetap,
portable fuel station dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan layanan
pengisian. Sementara itu, pada operasi dengan front kerja yang sering
berpindah, mobile refuelling truck dapat memberikan fleksibilitas lebih tinggi.
Sistem
kombinasi juga dapat digunakan, yaitu fasilitas utama sebagai pusat penyimpanan
dan pengisian, sedangkan fasilitas portabel menjadi titik distribusi pendukung.
Pemilihan sistem harus mempertimbangkan kelayakan teknis, biaya, serta
ketentuan penyimpanan dan penyaluran BBM yang berlaku.
5. Menghitung Potensi Penghematan Waktu dan Biaya
Sebelum
memindahkan atau menambah fasilitas, perusahaan perlu menghitung manfaat
ekonominya. Perhitungan awal dapat menggunakan pengurangan waktu perjalanan
refuelling sebagai indikator utama.
Rumus
sederhana untuk menghitung penghematan waktu perjalanan:
\[
T_s=N\times\frac{D_b-D_a}{V}\times60 \]
Keterangan:
- \(T_s\) = penghematan waktu
perjalanan per periode (menit).
- \(N\) = jumlah kejadian
refuelling dalam periode tersebut.
- \(D_b\) = jarak pulang-pergi
sebelum penempatan stasiun (km).
- \(D_a\) = jarak pulang-pergi
setelah penempatan stasiun (km).
- \(V\) = kecepatan rata-rata
perjalanan (km/jam).
Rumus ini
mengasumsikan kecepatan rata-rata yang sama sebelum dan sesudah perubahan
lokasi. Untuk analisis lapangan, waktu tempuh aktual lebih akurat daripada
estimasi berdasarkan kecepatan rata-rata.
Contoh
simulasi perhitungan:
Misalnya,
20 unit melakukan satu kali pengisian per hari. Jarak perjalanan pulang-pergi
menuju fasilitas lama adalah 8 km, sedangkan setelah penempatan fuel station
portabel menjadi 2 km. Dengan asumsi kecepatan rata-rata 15 km/jam:
|
Parameter |
Nilai |
|
Jumlah
kejadian refuelling per hari |
20 |
|
Jarak
sebelum penempatan |
8 km |
|
Jarak
sesudah penempatan |
2 km |
|
Pengurangan
jarak per kejadian |
6 km |
|
Penghematan
waktu perjalanan per kejadian |
24
menit |
|
Total
penghematan waktu per hari |
480
menit atau 8 jam-unit |
Hasil tersebut
menunjukkan potensi penghematan waktu perjalanan sebesar 8 jam-unit per hari.
Angka ini merupakan simulasi, bukan jaminan tambahan produksi sebesar delapan
jam, karena waktu pengisian, antrean, kebutuhan istirahat, dan jadwal
operasional tetap harus diperhitungkan.
6. Menentukan Kapasitas Fuel Station Portabel
Kapasitas
fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi BBM, interval pengiriman,
jumlah unit yang dilayani, dan kapasitas penyimpanan yang diizinkan.
Perkiraan
kebutuhan BBM harian dapat dihitung menggunakan rumus:
\[ Q_d=\sum_{i=1}^{n}(H_i\times
R_i) \]
Keterangan:
- \(Q_d\) = total kebutuhan
BBM harian (liter/hari).
- \(H_i\) = jam operasi harian
unit ke-\(i\).
- \(R_i\) = konsumsi BBM unit
ke-\(i\) (liter/jam).
- \(n\) = jumlah unit yang
dilayani.
Sebagai
contoh, apabila 10 unit memiliki rata-rata konsumsi 20 liter/jam dan beroperasi
selama 10 jam per hari, kebutuhan totalnya adalah 2.000 liter per hari.
Angka
tersebut merupakan ilustrasi. Perhitungan aktual harus menggunakan data konsumsi
masing-masing tipe alat berat dan mempertimbangkan variasi beban kerja.
Dalam
menentukan kapasitas tangki, perusahaan juga perlu memperhitungkan:
- Interval pengiriman BBM dari
pemasok.
- Cadangan operasional yang
wajar.
- Kapasitas pengisian dan
penyaluran pompa.
- Kapasitas efektif tangki
sesuai batas pengisian yang ditetapkan.
- Kebutuhan BBM saat terjadi
keterlambatan pasokan.
- Kapasitas penyimpanan yang
diizinkan dan kemampuan pengendalian tumpahan.
Kapasitas
yang terlalu kecil dapat menyebabkan kekurangan stok, sedangkan kapasitas
terlalu besar dapat meningkatkan kebutuhan modal kerja dan risiko penyimpanan.
7. Aspek Keselamatan dalam Penempatan Fuel Station



12
Penempatan
fuel station portabel harus mengutamakan keselamatan personel, alat berat, dan
lingkungan. Lokasi yang dekat dengan area produksi belum tentu aman apabila
berada di jalur lalu lintas padat atau berdekatan dengan sumber penyalaan.
Beberapa
aspek yang perlu diperhatikan adalah:
1.
Pemilihan lokasi aman
Tempatkan
fasilitas pada area yang stabil, mudah diakses, tidak mengganggu jalur hauling,
dan memenuhi ketentuan jarak aman dari sumber penyalaan serta fasilitas lain.
Jarak dan zonasi harus ditentukan berdasarkan kajian risiko dan regulasi yang
berlaku.
2. Sistem
penampungan tumpahan
Gunakan
sistem penahan tumpahan atau secondary containment yang dirancang sesuai
kapasitas dan ketentuan teknis yang berlaku. Sediakan perlengkapan penanganan
tumpahan serta prosedur tanggap darurat.
3.
Pencegahan kebakaran
Pastikan
peralatan pemadam sesuai dengan risiko kebakaran BBM, tersedia dalam kondisi
siap pakai, dan ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Terapkan larangan
merokok, pengendalian sumber penyalaan, dan prosedur penghentian darurat.
4.
Pengendalian kualitas dan kuantitas BBM
Gunakan
alat ukur yang sesuai, catat penerimaan dan penyaluran BBM, serta lakukan
rekonsiliasi stok secara rutin untuk mendeteksi selisih persediaan.
5.
Kepatuhan terhadap regulasi
Pastikan
pemilihan tangki, instalasi, perizinan, pengoperasian, pengangkutan, dan
pengelolaan lingkungan mengikuti persyaratan yang berlaku. Penempatan fasilitas
tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan pertimbangan produktivitas tanpa
evaluasi keselamatan dan kepatuhan.
8. Integrasi GIS dan Digital Monitoring untuk
Optimasi Refuelling

Teknologi
digital dapat membantu perusahaan menentukan lokasi fuel station berdasarkan
kondisi operasional yang aktual.
Integrasi
GIS dan data operasional memungkinkan tim melakukan beberapa analisis berikut:
- Pemetaan kebutuhan BBM:
mengidentifikasi konsentrasi konsumsi bahan bakar pada setiap area kerja.
- Analisis jaringan jalan:
membandingkan waktu perjalanan menuju beberapa alternatif lokasi stasiun.
- Pemantauan konsumsi unit:
membandingkan konsumsi aktual dengan jam operasi dan produktivitas.
- Dashboard persediaan:
memantau stok, penerimaan, penyaluran, dan kebutuhan pengisian ulang.
- Evaluasi lokasi berkala:
menyesuaikan posisi fasilitas dengan kemajuan front kerja dan perubahan
rute operasional.
Dengan
sistem tersebut, keputusan pemindahan fuel station tidak hanya mengandalkan
perkiraan lapangan, tetapi juga didukung data yang dapat diukur dan dievaluasi.
9. Tahapan Implementasi di Area Pertambangan
Untuk
memastikan penerapan berjalan efektif, perusahaan dapat menggunakan tahapan
berikut.
|
Tahapan |
Kegiatan utama |
Hasil yang diharapkan |
|
1.
Pengumpulan data |
Mengidentifikasi
jumlah unit, konsumsi BBM, jam operasi, dan jarak perjalanan |
Data
dasar operasional |
|
2.
Analisis lokasi |
Membandingkan
beberapa alternatif lokasi berdasarkan waktu tempuh dan risiko |
Kandidat
lokasi fuel station |
|
3.
Kajian teknis dan K3 |
Memeriksa
akses, stabilitas lahan, proteksi kebakaran, dan pengendalian tumpahan |
Lokasi
yang layak secara teknis dan keselamatan |
|
4.
Simulasi biaya |
Menghitung
penghematan waktu, biaya fasilitas, distribusi, dan pemeliharaan |
Estimasi
manfaat ekonomi |
|
5. Uji
coba operasional |
Menerapkan
fasilitas pada area terpilih dan mencatat hasilnya |
Data
performa aktual |
|
6.
Evaluasi |
Membandingkan
kondisi sebelum dan sesudah implementasi |
Keputusan
perbaikan atau perluasan |
Indikator keberhasilan sebaiknya mencakup waktu perjalanan
refuelling, waktu antre, waktu layanan, konsumsi BBM, biaya distribusi,
ketersediaan alat berat, dan catatan insiden keselamatan.
Kesimpulan
Strategi
penempatan portable fuel station merupakan salah satu pendekatan untuk
meningkatkan efisiensi operasional pertambangan melalui pengurangan jarak dan
waktu perjalanan pengisian bahan bakar. Keberhasilannya bergantung pada
pemetaan distribusi unit, analisis jaringan jalan, perhitungan kebutuhan BBM,
penentuan kapasitas fasilitas, serta pengendalian keselamatan dan lingkungan.
Dengan
mengintegrasikan data operasional, GIS, perencanaan persediaan, dan evaluasi
biaya, perusahaan dapat menentukan lokasi fasilitas yang lebih efektif
sekaligus menjaga kelancaran produksi.
Tujuan
akhirnya bukan sekadar mendekatkan BBM ke alat berat, melainkan memastikan
setiap kegiatan refuelling berlangsung secara efisien, aman, terukur, dan
ekonomis.
PT ARRAHMAN MITRA KONTRAKTOR
📞 Hubungi Kami Sekarang
🌐 Website: PT Arrahman Mitra Kontraktor
📧 Email: admin.palembang@ptarrahman.com
📱 WhatsApp: +62823-7419-4501

Add a Comment