Perusahaan Kontraktor Pertambangan dan Konstruksi Indonesia

Strategi Penempatan Fuel Station Portabel untuk Memperpendek Jarak Refuelling Unit

Dalam industri pertambangan, efisiensi operasional alat berat tidak hanya dipengaruhi oleh produktivitas unit, kondisi jalan angkut, dan keterampilan operator, tetapi juga oleh efektivitas sistem pengisian bahan bakar (refuelling). Jarak perjalanan dari area kerja menuju fasilitas pengisian bahan bakar dapat memengaruhi waktu produktif alat berat, konsumsi solar, kebutuhan kendaraan pendukung, serta biaya operasional harian.

Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah penempatan portable fuel station atau stasiun pengisian bahan bakar portabel pada lokasi yang lebih dekat dengan area operasi. Penempatan yang tepat dapat mengurangi perjalanan khusus untuk pengisian bahan bakar, memperpendek waktu layanan, dan membantu meningkatkan ketersediaan unit.

Namun, fasilitas ini tidak cukup ditempatkan hanya berdasarkan jarak terdekat. Perusahaan perlu mempertimbangkan distribusi alat berat, pola pergerakan unit, kapasitas penyimpanan, akses kendaraan tangki, keselamatan kerja, serta ketentuan pengelolaan bahan bakar yang berlaku.

1. Memahami Peran Portable Fuel Station dalam Operasi Tambang

Our A-FLO Equipment team delivered and installed a Fueltainer FT30 Self-Bunded Diesel Tank at the Holcim Australia Warrnambool Quarry, supporting efficient and safe refuelling operations on… | A-FLO Equipment

Feature: Tatra – redefining tough - trucksales.com.au

Heavy Equipment Refueling Safety & Bulk Diesel Storage Guide — FieldFix Blog

12

Portable fuel station merupakan fasilitas penyimpanan dan penyaluran bahan bakar yang dirancang agar dapat dipindahkan atau ditempatkan secara fleksibel sesuai kebutuhan operasional. Bentuknya dapat berupa tangki modular, tangki berpelindung, atau unit penyaluran bahan bakar dengan pompa, meter, selang, dan perlengkapan keselamatan.

Dalam kegiatan pertambangan, fasilitas ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengisian bahan bakar pada:

  • Excavator dan wheel loader.
  • Bulldozer dan motor grader.
  • Dump truck serta kendaraan pendukung yang kompatibel dengan sistem pengisian.
  • Unit pemeliharaan jalan dan peralatan operasional lainnya.

Penerapannya sangat relevan pada tambang terbuka dengan area kerja yang luas, lokasi penggalian yang berpindah-pindah, atau jarak yang cukup jauh antara area operasi dan fasilitas pengisian utama.

Tujuan utamanya bukan sekadar mendekatkan bahan bakar ke alat berat, melainkan mengurangi waktu nonproduktif tanpa menambah risiko keselamatan, pemborosan bahan bakar, atau biaya logistik yang tidak terkendali.

2. Mengapa Jarak Refuelling Memengaruhi Produktivitas?

Ketika alat berat harus meninggalkan area kerja untuk mengisi bahan bakar, terdapat beberapa komponen waktu yang perlu diperhitungkan:

  1. Waktu perjalanan menuju fasilitas pengisian.
  2. Waktu antre sebelum pengisian.
  3. Waktu pengisian bahan bakar.
  4. Waktu pemeriksaan atau administrasi.
  5. Waktu perjalanan kembali menuju area kerja.

Pada unit produksi seperti excavator dan dump truck, perjalanan khusus untuk pengisian bahan bakar dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk kegiatan utama. Dampaknya menjadi lebih signifikan ketika jumlah unit banyak, jarak fasilitas cukup jauh, dan kebutuhan pengisian terjadi secara bersamaan.

Sebagai ilustrasi, apabila satu unit membutuhkan 20 menit perjalanan pulang-pergi, maka lima kejadian pengisian dalam satu minggu operasi dapat menghabiskan 100 menit hanya untuk perjalanan tersebut. Angka ini belum mencakup antrean dan waktu pengisian.

Dengan demikian, evaluasi jarak refuelling perlu dilakukan sebagai bagian dari analisis produktivitas dan biaya operasi alat berat.

3. Strategi Menentukan Lokasi Fuel Station Portabel

Paddock Bunded Diesel Tanks — Scintex Australia

GO BOX Self Bunded Tank Range - Ultimate Fluids Storage Solution
 – GO Industrial

Aerial view of excavator and construction equipment. Machinery and mine equipment from above. Top view of industrial place. Photo captured with drone.

8

Penentuan lokasi fuel station portabel perlu didasarkan pada data operasional, bukan hanya pertimbangan geografis. Lokasi yang ideal adalah lokasi yang mengurangi waktu perjalanan refuelling, mudah dijangkau kendaraan pemasok, dan memenuhi persyaratan keselamatan serta lingkungan.

A. Pemetaan distribusi alat berat

Langkah pertama adalah mengidentifikasi posisi dan pola pergerakan unit yang membutuhkan bahan bakar. Data yang perlu dikumpulkan meliputi:

  • Koordinat area kerja utama dan lokasi unit.
  • Jumlah unit berdasarkan jenis alat berat.
  • Konsumsi bahan bakar rata-rata per jam.
  • Jam operasi harian dan pola pergantian shift.
  • Frekuensi pengisian bahan bakar.
  • Jarak perjalanan ke fasilitas pengisian saat ini.

Data tersebut dapat divisualisasikan menggunakan GIS untuk mengidentifikasi kelompok unit dengan kebutuhan refuelling tertinggi.

B. Analisis jarak dan waktu perjalanan

Lokasi stasiun sebaiknya dievaluasi berdasarkan jaringan jalan aktual, bukan hanya jarak lurus pada peta. Jalan tambang dapat memiliki batas kecepatan, tanjakan, tikungan, pembatasan kendaraan, dan kondisi permukaan yang memengaruhi waktu perjalanan.

Beberapa alternatif lokasi dapat dibandingkan berdasarkan waktu tempuh, akses kendaraan pemasok, kemudahan manuver, serta potensi gangguan terhadap lalu lintas produksi.

C. Menentukan area pelayanan

Setiap lokasi fuel station perlu memiliki area pelayanan yang jelas. Misalnya, satu fasilitas melayani kelompok excavator dan bulldozer pada area penggalian tertentu, sedangkan fasilitas lain melayani unit di area kerja yang terpisah.

Pembagian tersebut bertujuan mengurangi perjalanan silang dan mencegah penumpukan unit pada satu titik pengisian.

D. Memperhitungkan perubahan area tambang

Area kerja pertambangan dapat berpindah seiring kemajuan penggalian dan perubahan rencana produksi. Oleh sebab itu, penempatan fasilitas portabel perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan pit, kemajuan front kerja, dan perubahan jalur angkut.

4. Membandingkan Alternatif Sistem Refuelling

Tidak semua kondisi tambang membutuhkan stasiun portabel yang ditempatkan secara permanen. Perusahaan dapat memilih sistem yang paling sesuai dengan karakteristik operasi.

Sistem refuelling

Keunggulan

Pertimbangan

Fuel station utama

Pengawasan dan pengendalian stok terpusat

Jarak perjalanan dapat menjadi panjang

Portable fuel station

Lebih fleksibel dan dapat mendekati area operasi

Memerlukan lokasi aman, pengendalian stok, dan pengelolaan fasilitas

Mobile refuelling truck

Dapat melayani unit di beberapa lokasi

Membutuhkan pengaturan rute, akses, dan jadwal layanan

Sistem kombinasi

Menggabungkan fasilitas utama dengan layanan dekat area kerja

Memerlukan koordinasi distribusi dan pengawasan yang baik

Pada tambang dengan area kerja yang relatif tetap, portable fuel station dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan layanan pengisian. Sementara itu, pada operasi dengan front kerja yang sering berpindah, mobile refuelling truck dapat memberikan fleksibilitas lebih tinggi.

Sistem kombinasi juga dapat digunakan, yaitu fasilitas utama sebagai pusat penyimpanan dan pengisian, sedangkan fasilitas portabel menjadi titik distribusi pendukung. Pemilihan sistem harus mempertimbangkan kelayakan teknis, biaya, serta ketentuan penyimpanan dan penyaluran BBM yang berlaku.

5. Menghitung Potensi Penghematan Waktu dan Biaya

Sebelum memindahkan atau menambah fasilitas, perusahaan perlu menghitung manfaat ekonominya. Perhitungan awal dapat menggunakan pengurangan waktu perjalanan refuelling sebagai indikator utama.

Rumus sederhana untuk menghitung penghematan waktu perjalanan:

\[ T_s=N\times\frac{D_b-D_a}{V}\times60 \]

Keterangan:

  • \(T_s\) = penghematan waktu perjalanan per periode (menit).
  • \(N\) = jumlah kejadian refuelling dalam periode tersebut.
  • \(D_b\) = jarak pulang-pergi sebelum penempatan stasiun (km).
  • \(D_a\) = jarak pulang-pergi setelah penempatan stasiun (km).
  • \(V\) = kecepatan rata-rata perjalanan (km/jam).

Rumus ini mengasumsikan kecepatan rata-rata yang sama sebelum dan sesudah perubahan lokasi. Untuk analisis lapangan, waktu tempuh aktual lebih akurat daripada estimasi berdasarkan kecepatan rata-rata.

Contoh simulasi perhitungan:

Misalnya, 20 unit melakukan satu kali pengisian per hari. Jarak perjalanan pulang-pergi menuju fasilitas lama adalah 8 km, sedangkan setelah penempatan fuel station portabel menjadi 2 km. Dengan asumsi kecepatan rata-rata 15 km/jam:

Parameter

Nilai

Jumlah kejadian refuelling per hari

20

Jarak sebelum penempatan

8 km

Jarak sesudah penempatan

2 km

Pengurangan jarak per kejadian

6 km

Penghematan waktu perjalanan per kejadian

24 menit

Total penghematan waktu per hari

480 menit atau 8 jam-unit

Hasil tersebut menunjukkan potensi penghematan waktu perjalanan sebesar 8 jam-unit per hari. Angka ini merupakan simulasi, bukan jaminan tambahan produksi sebesar delapan jam, karena waktu pengisian, antrean, kebutuhan istirahat, dan jadwal operasional tetap harus diperhitungkan.

6. Menentukan Kapasitas Fuel Station Portabel

Kapasitas fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi BBM, interval pengiriman, jumlah unit yang dilayani, dan kapasitas penyimpanan yang diizinkan.

Perkiraan kebutuhan BBM harian dapat dihitung menggunakan rumus:

\[ Q_d=\sum_{i=1}^{n}(H_i\times R_i) \]

Keterangan:

  • \(Q_d\) = total kebutuhan BBM harian (liter/hari).
  • \(H_i\) = jam operasi harian unit ke-\(i\).
  • \(R_i\) = konsumsi BBM unit ke-\(i\) (liter/jam).
  • \(n\) = jumlah unit yang dilayani.

Sebagai contoh, apabila 10 unit memiliki rata-rata konsumsi 20 liter/jam dan beroperasi selama 10 jam per hari, kebutuhan totalnya adalah 2.000 liter per hari.

Angka tersebut merupakan ilustrasi. Perhitungan aktual harus menggunakan data konsumsi masing-masing tipe alat berat dan mempertimbangkan variasi beban kerja.

Dalam menentukan kapasitas tangki, perusahaan juga perlu memperhitungkan:

  • Interval pengiriman BBM dari pemasok.
  • Cadangan operasional yang wajar.
  • Kapasitas pengisian dan penyaluran pompa.
  • Kapasitas efektif tangki sesuai batas pengisian yang ditetapkan.
  • Kebutuhan BBM saat terjadi keterlambatan pasokan.
  • Kapasitas penyimpanan yang diizinkan dan kemampuan pengendalian tumpahan.

Kapasitas yang terlalu kecil dapat menyebabkan kekurangan stok, sedangkan kapasitas terlalu besar dapat meningkatkan kebutuhan modal kerja dan risiko penyimpanan.

7. Aspek Keselamatan dalam Penempatan Fuel Station

Secondary Containment | EPA Compliant | Muscle Wall

Fueling Safety Signs: Placement and Design Tips

120L Oil & Fuel Spill Kit in Wheelie Bin | Spillguard

12

Penempatan fuel station portabel harus mengutamakan keselamatan personel, alat berat, dan lingkungan. Lokasi yang dekat dengan area produksi belum tentu aman apabila berada di jalur lalu lintas padat atau berdekatan dengan sumber penyalaan.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah:

1. Pemilihan lokasi aman

Tempatkan fasilitas pada area yang stabil, mudah diakses, tidak mengganggu jalur hauling, dan memenuhi ketentuan jarak aman dari sumber penyalaan serta fasilitas lain. Jarak dan zonasi harus ditentukan berdasarkan kajian risiko dan regulasi yang berlaku.

2. Sistem penampungan tumpahan

Gunakan sistem penahan tumpahan atau secondary containment yang dirancang sesuai kapasitas dan ketentuan teknis yang berlaku. Sediakan perlengkapan penanganan tumpahan serta prosedur tanggap darurat.

3. Pencegahan kebakaran

Pastikan peralatan pemadam sesuai dengan risiko kebakaran BBM, tersedia dalam kondisi siap pakai, dan ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Terapkan larangan merokok, pengendalian sumber penyalaan, dan prosedur penghentian darurat.

4. Pengendalian kualitas dan kuantitas BBM

Gunakan alat ukur yang sesuai, catat penerimaan dan penyaluran BBM, serta lakukan rekonsiliasi stok secara rutin untuk mendeteksi selisih persediaan.

5. Kepatuhan terhadap regulasi

Pastikan pemilihan tangki, instalasi, perizinan, pengoperasian, pengangkutan, dan pengelolaan lingkungan mengikuti persyaratan yang berlaku. Penempatan fasilitas tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan pertimbangan produktivitas tanpa evaluasi keselamatan dan kepatuhan.

8. Integrasi GIS dan Digital Monitoring untuk Optimasi Refuelling

Fuel Management Solution | Reduce Theft & Cut Fleet Costs with Reactore

reactore.com

Teknologi digital dapat membantu perusahaan menentukan lokasi fuel station berdasarkan kondisi operasional yang aktual.

Integrasi GIS dan data operasional memungkinkan tim melakukan beberapa analisis berikut:

  • Pemetaan kebutuhan BBM: mengidentifikasi konsentrasi konsumsi bahan bakar pada setiap area kerja.
  • Analisis jaringan jalan: membandingkan waktu perjalanan menuju beberapa alternatif lokasi stasiun.
  • Pemantauan konsumsi unit: membandingkan konsumsi aktual dengan jam operasi dan produktivitas.
  • Dashboard persediaan: memantau stok, penerimaan, penyaluran, dan kebutuhan pengisian ulang.
  • Evaluasi lokasi berkala: menyesuaikan posisi fasilitas dengan kemajuan front kerja dan perubahan rute operasional.

Dengan sistem tersebut, keputusan pemindahan fuel station tidak hanya mengandalkan perkiraan lapangan, tetapi juga didukung data yang dapat diukur dan dievaluasi.

9. Tahapan Implementasi di Area Pertambangan

Untuk memastikan penerapan berjalan efektif, perusahaan dapat menggunakan tahapan berikut.

Tahapan

Kegiatan utama

Hasil yang diharapkan

1. Pengumpulan data

Mengidentifikasi jumlah unit, konsumsi BBM, jam operasi, dan jarak perjalanan

Data dasar operasional

2. Analisis lokasi

Membandingkan beberapa alternatif lokasi berdasarkan waktu tempuh dan risiko

Kandidat lokasi fuel station

3. Kajian teknis dan K3

Memeriksa akses, stabilitas lahan, proteksi kebakaran, dan pengendalian tumpahan

Lokasi yang layak secara teknis dan keselamatan

4. Simulasi biaya

Menghitung penghematan waktu, biaya fasilitas, distribusi, dan pemeliharaan

Estimasi manfaat ekonomi

5. Uji coba operasional

Menerapkan fasilitas pada area terpilih dan mencatat hasilnya

Data performa aktual

6. Evaluasi

Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi

Keputusan perbaikan atau perluasan

Indikator keberhasilan sebaiknya mencakup waktu perjalanan refuelling, waktu antre, waktu layanan, konsumsi BBM, biaya distribusi, ketersediaan alat berat, dan catatan insiden keselamatan.

Kesimpulan

Strategi penempatan portable fuel station merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi operasional pertambangan melalui pengurangan jarak dan waktu perjalanan pengisian bahan bakar. Keberhasilannya bergantung pada pemetaan distribusi unit, analisis jaringan jalan, perhitungan kebutuhan BBM, penentuan kapasitas fasilitas, serta pengendalian keselamatan dan lingkungan.

Dengan mengintegrasikan data operasional, GIS, perencanaan persediaan, dan evaluasi biaya, perusahaan dapat menentukan lokasi fasilitas yang lebih efektif sekaligus menjaga kelancaran produksi.

Tujuan akhirnya bukan sekadar mendekatkan BBM ke alat berat, melainkan memastikan setiap kegiatan refuelling berlangsung secara efisien, aman, terukur, dan ekonomis.

PT ARRAHMAN MITRA KONTRAKTOR

📞 Hubungi Kami Sekarang

🌐 Website: PT Arrahman Mitra Kontraktor

📧 Email: admin.palembang@ptarrahman.com

📱 WhatsApp: +62823-7419-4501

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *