Infrastruktur
pendukung tambang seperti workshop alat berat, conveyor support, platform,
pipe rack, steel structure, maintenance facility, stockpile structure, hopper support,
access platform, tangga, handrail, hingga fasilitas crusher plant banyak
menggunakan struktur baja sebagai elemen utama.
Kualitas
sambungan las menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga integritas
struktur tersebut. Kesalahan dalam pemilihan material, prosedur pengelasan,
welder, parameter pengelasan, maupun inspeksi dapat menyebabkan cacat sambungan
yang berpotensi menurunkan kapasitas struktur.
Salah
satu standar yang banyak digunakan untuk pekerjaan pengelasan baja struktural
adalah AWS D1.1/D1.1M – Structural Welding Code—Steel. AWS menyatakan
bahwa D1.1 mencakup persyaratan untuk struktur yang dibuat dari baja konstruksi
karbon dan low-alloy, termasuk aspek desain, fabrikasi, kualifikasi, dan
inspeksi.
Per 2026,
AWS telah menerbitkan AWS D1.1/D1.1M:2025-AMD1, sehingga dokumen kontrak
dan spesifikasi proyek perlu secara jelas menyebutkan edisi yang berlaku.
1. Mengapa Standarisasi
Pengelasan Penting di Pertambangan?
Lingkungan
pertambangan memiliki kondisi operasi yang berat.
Struktur
baja dapat menerima:
- beban statis;
- beban dinamis;
- getaran;
- impact loading;
- perubahan temperatur;
- beban angin;
- beban equipment;
- beban material;
- fatigue akibat siklus
operasi.
Karena
itu, sambungan las tidak boleh diperlakukan hanya sebagai pekerjaan fabrikasi
biasa.
Diperlukan
sistem yang memastikan:
Material
→ Procedure → Welder → Welding → Inspection → Documentation
berjalan
secara konsisten.
2. Mengenal AWS D1.1
AWS
D1.1/D1.1M:2025 merupakan Structural Welding Code—Steel dari American
Welding Society.
AWS
menjelaskan bahwa standar tersebut digunakan untuk struktur baja dan mencakup
persyaratan mengenai:
- welding procedure
qualification;
- welder qualification;
- fabrication;
- inspection;
- acceptance criteria;
- material;
- design considerations.
D1.1
bukan otomatis menjadi hukum di semua proyek. AWS sendiri menjelaskan bahwa
penerapannya menjadi wajib apabila dirujuk oleh kontrak, project specification,
atau dokumen persyaratan lain yang berlaku untuk proyek tersebut.
3. Infrastruktur Tambang
yang Membutuhkan Kontrol Pengelasan
Penerapan
sistem pengelasan terstandar relevan untuk berbagai fasilitas, misalnya:
|
Infrastruktur |
Contoh
Komponen |
|
Workshop |
Column, beam, crane support |
|
Conveyor |
Gallery, support, platform |
|
Crusher plant |
Structure, platform, support |
|
Stockpile |
Steel support |
|
Maintenance facility |
Platform dan frame |
|
Pipe rack |
Column, beam, bracing |
|
Access platform |
Stair, handrail |
|
Warehouse |
Steel frame |
|
Loading facility |
Structural support |
|
Plant facility |
Equipment support |
Jenis
material dan sistem sambungan tetap harus diverifikasi terhadap desain dan
spesifikasi proyek.
4. Prinsip Dasar Welding
Quality
Kualitas
sambungan las dapat dipandang sebagai rantai:
Material
↓
WPS
↓
Welder Qualification
↓
Joint Preparation
↓
Welding
↓
Inspection
↓
Acceptance
↓
Documentation
Kegagalan
pada salah satu tahap dapat memengaruhi kualitas keseluruhan sambungan.
5. Material Identification
Sebelum
pengelasan, material harus dapat diidentifikasi.
Data yang
perlu dikontrol antara lain:
- material grade;
- thickness;
- heat number;
- mill certificate;
- material specification;
- condition material.
Tujuannya
memastikan material yang digunakan sesuai dengan design drawing dan welding
procedure.
Material
yang tidak teridentifikasi sebaiknya tidak langsung digunakan untuk pekerjaan
struktural kritis tanpa proses verifikasi yang sesuai.
6. Welding Procedure
Specification (WPS)
WPS
merupakan dokumen penting dalam pengendalian proses pengelasan.
WPS dapat
menetapkan parameter dan variabel yang relevan, termasuk:
- welding process;
- base metal;
- filler metal;
- joint design;
- welding position;
- preheat;
- interpass temperature;
- electrical parameters;
- travel speed;
- shielding gas bila relevan;
- number of passes;
- teknik pengelasan.
WPS harus
sesuai dengan persyaratan proyek dan edisi code yang dirujuk.
7. Prequalified WPS dan
Qualified WPS
Dalam
sistem AWS D1.1, terdapat pendekatan prequalification dan qualification.
Prequalified
WPS dapat digunakan apabila memenuhi persyaratan code yang berlaku.
Apabila
tidak memenuhi persyaratan prequalification, prosedur dapat memerlukan
qualification melalui pengujian yang ditentukan.
Karena
detail essential variables dan acceptance requirements cukup spesifik,
engineer/QC perlu menggunakan edisi D1.1 yang berlaku sebagai dokumen utama.
8. Welder Qualification
WPS yang
baik tidak cukup apabila welder tidak memiliki kualifikasi yang sesuai.
Welder
qualification digunakan untuk memastikan kemampuan welder melakukan jenis
pengelasan tertentu dalam batas variabel yang ditetapkan.
Aspek
yang perlu dikontrol antara lain:
- welding process;
- position;
- joint type;
- material group;
- thickness range;
- electrode/filler;
- qualification record.
9. Welding Procedure
Qualification Record
Untuk
prosedur yang membutuhkan qualification, hasil pengujian harus terdokumentasi.
Dokumentasi
dapat mencakup:
- identification WPS;
- base metal;
- filler metal;
- process;
- welding parameters;
- test specimen;
- test results;
- welder/operator;
- approval.
Dokumen
ini menjadi bagian dari welding quality records.
10. Joint Preparation
Sebelum
pengelasan, joint harus dipersiapkan sesuai desain.
Hal yang
perlu diperiksa:
- groove angle;
- root opening;
- root face;
- joint alignment;
- cleanliness;
- surface condition.
Kontaminasi
seperti:
- minyak;
- grease;
- air;
- karat berlebihan;
- coating yang tidak sesuai;
dapat
memengaruhi kualitas pengelasan.
11. Fit-Up Inspection
Fit-up
inspection dilakukan sebelum welding.
Checklist
dapat meliputi:
|
Pemeriksaan |
Status |
|
Material sesuai |
✓ |
|
Joint type sesuai |
✓ |
|
Alignment sesuai |
✓ |
|
Root gap sesuai |
✓ |
|
Groove sesuai |
✓ |
|
Tack weld sesuai |
✓ |
|
Surface clean |
✓ |
|
Drawing revision benar |
✓ |
Fit-up
yang buruk dapat menghasilkan distorsi dan cacat sambungan.
12. Preheat dan Interpass
Temperature
Kontrol
temperatur merupakan bagian penting dari proses pengelasan tertentu.
Preheat
dapat berhubungan dengan:
- material;
- thickness;
- welding process;
- hydrogen control;
- ambient condition;
- heat input.
Interpass
temperature juga perlu dikendalikan sesuai WPS.
AWS
D1.1:2025 memperbarui sejumlah persyaratan dan klasifikasi material/preheat.
Contohnya, AWS mencatat pengenalan ASTM A913 Grade 80 sebagai base metal
baru yang dapat diprequalified dalam kategori tertentu, dengan persyaratan
terkait filler dan hydrogen.
Karena
itu, parameter temperatur tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan
kebiasaan welder.
13. Welding Consumable
Filler
metal harus sesuai dengan WPS.
Kontrol
meliputi:
- type;
- classification;
- diameter;
- storage;
- handling;
- batch/lot;
- condition.
Untuk
electrode low-hydrogen, penyimpanan dan handling sangat penting agar
karakteristik consumable tetap sesuai persyaratan.
14. Pengendalian Parameter
Pengelasan
Parameter
yang dapat dicatat:
- voltage;
- amperage;
- travel speed;
- polarity;
- electrode diameter;
- preheat;
- interpass;
- number of passes.
Secara
konseptual, heat input dapat diperkirakan dari parameter pengelasan.
HI=V×I×601000×S×ηHI = \frac{V
\times I \times 60}{1000 \times S} \times \eta
dengan:
- HIHI = heat input;
- VV = voltage;
- II = current;
- SS = travel speed;
- η\eta = thermal efficiency.
Rumus dan
satuan aktual harus mengikuti metode perhitungan yang dipersyaratkan oleh
WPS/code yang digunakan.
15. Welding Sequence
Untuk
struktur baja besar, urutan pengelasan dapat memengaruhi:
- distortion;
- residual stress;
- dimensional accuracy;
- alignment.
Karena
itu, welding sequence perlu direncanakan.
Contohnya:
Fit-Up
↓
Tack Weld
↓
Main Weld
↓
Opposite Side
↓
Dimensional Check
↓
Final Inspection
Urutan
aktual bergantung pada detail sambungan dan desain fabrikasi.
16. Distorsi pada Struktur
Baja
Pengelasan
menghasilkan panas lokal yang dapat menyebabkan perubahan bentuk.
Distorsi
dapat berupa:
- angular distortion;
- longitudinal distortion;
- transverse shrinkage;
- buckling.
Risiko
meningkat pada:
- plate tipis;
- long weld;
- asymmetric weld;
- excessive heat input.
Mitigasinya
dapat dilakukan melalui:
- welding sequence;
- balanced welding;
- temporary restraint;
- controlled heat input;
- proper fit-up.
17. Jenis Cacat Las
Beberapa
cacat yang perlu dikendalikan antara lain:
Porosity
Gas
terperangkap dalam weld metal.
Lack of Fusion
Tidak
terjadi fusi yang memadai antara weld metal dan base metal.
Incomplete Penetration
Penetrasi
tidak mencapai kedalaman yang dipersyaratkan.
Undercut
Terbentuk
alur pada base metal di dekat toe weld.
Crack
Retak
pada weld metal atau heat affected zone.
Slag Inclusion
Material
slag terperangkap dalam sambungan.
Tidak semua
indikasi otomatis berarti sambungan harus ditolak. Keputusan acceptance harus
mengacu pada acceptance criteria yang berlaku.
18. Visual Inspection
Visual
Testing atau VT merupakan salah satu pemeriksaan fundamental.
Pemeriksaan
dapat mencakup:
- weld profile;
- weld size;
- surface discontinuity;
- crack;
- undercut;
- overlap;
- crater;
- dimensional accuracy;
- surface condition.
VT
sebaiknya dilakukan secara sistematis sebelum metode NDT lainnya.
19. Non-Destructive Testing
NDT dapat
digunakan sesuai criticality dan persyaratan proyek.
Metode
yang umum antara lain:
MT – Magnetic Particle Testing
Untuk
mendeteksi indikasi permukaan atau dekat permukaan pada material ferromagnetic.
PT – Liquid Penetrant Testing
Untuk
indikasi permukaan pada material yang sesuai.
UT – Ultrasonic Testing
Dapat
digunakan untuk mendeteksi discontinuity internal pada konfigurasi tertentu.
RT – Radiographic Testing
Dapat
digunakan untuk pemeriksaan internal weld tertentu.
Pemilihan
metode NDT harus ditentukan berdasarkan jenis sambungan, material, ketebalan,
akses, criticality, serta persyaratan code/specification.
20. Acceptance Criteria
Tidak
semua cacat dapat langsung dikategorikan sebagai reject.
Acceptance
criteria menentukan batas kondisi yang dapat diterima.
Karena
AWS D1.1:2025 mengalami pembaruan pada inspection criteria dan technical
requirements, proyek harus memastikan inspector menggunakan edisi code yang
benar dan tidak mencampur tabel atau ketentuan dari edisi berbeda. AWS
menyebutkan bahwa edisi 2025 memperbarui dan memperjelas sejumlah persyaratan
qualification serta inspection.
21. Welding Inspection Plan
Inspection
and Test Plan atau ITP dapat disusun sebagai berikut:
|
Tahap |
Inspection |
Dokumen |
|
Material |
Certificate check |
MTC |
|
Fit-up |
Dimensional check |
Fit-up report |
|
Welding |
Parameter check |
Welding report |
|
Visual |
VT |
VT report |
|
NDT |
MT/PT/UT/RT sesuai kebutuhan |
NDT report |
|
Repair |
Re-inspection |
Repair report |
|
Final |
Acceptance |
Final inspection |
22. Hold Point dan Witness
Point
Dalam
proyek besar, beberapa tahap dapat ditetapkan sebagai:
Hold
Point
Pekerjaan
tidak boleh dilanjutkan sebelum inspection/approval dilakukan.
Witness
Point
Inspector
diberi kesempatan menyaksikan pemeriksaan sesuai ITP.
Contohnya:
Fit-Up
↓
HOLD POINT
↓
Welding
↓
VT
↓
NDT
↓
Acceptance
Sistem
ini membantu memastikan tahap kritis tidak dilewati.
23. Welding pada
Infrastruktur yang Mengalami Getaran
Infrastruktur
seperti:
- crusher support;
- conveyor support;
- vibrating screen;
- feeder;
- equipment platform;
dapat
mengalami beban siklik.
Pada
struktur seperti ini, kualitas detail sambungan menjadi semakin penting.
Hal yang
perlu diperhatikan:
- stress concentration;
- weld termination;
- joint geometry;
- fatigue category sesuai
design basis;
- residual stress;
- inspection requirements.
Desain
sambungan harus dilakukan bersama engineer struktur, bukan hanya berdasarkan
kemampuan pengelasan di workshop.
24. Welding dan Fatigue
Beban
berulang dapat menyebabkan fatigue.
Secara
konseptual:
Cyclic Load
↓
Stress Range
↓
Stress Concentration
↓
Fatigue Damage
↓
Crack Initiation
↓
Crack Propagation
Karena
itu, pada struktur yang mengalami siklus beban tinggi, desain sambungan dan
detail las harus mempertimbangkan fatigue sesuai design code yang digunakan.
25. Welding Repair
Apabila
ditemukan defect yang tidak memenuhi acceptance criteria, repair harus
dikendalikan.
Tahapan
umum:
- identifikasi defect;
- menentukan lokasi;
- menentukan metode removal;
- melakukan repair;
- welding ulang;
- inspection;
- NDT ulang bila
dipersyaratkan;
- dokumentasi.
Repair
tidak boleh dilakukan berulang-ulang tanpa evaluasi penyebab.
26. Root Cause Analysis
Jika
cacat yang sama muncul berulang, lakukan analisis penyebab.
Contoh:
Porosity
berulang
Kemungkinan
faktor:
- surface contamination;
- shielding gas;
- consumable;
- technique;
- environmental condition.
Lack of
fusion
Kemungkinan
faktor:
- amperage;
- travel speed;
- joint preparation;
- electrode angle;
- cleaning antar pass.
Tujuannya
bukan hanya memperbaiki satu weld, tetapi menghilangkan penyebab sistemiknya.
27. Welding Quality Control
di Workshop
Workshop
fabrikasi dapat menerapkan sistem:
Incoming Material
↓
Material Verification
↓
Cutting
↓
Fit-Up
↓
Welding
↓
VT
↓
NDT
↓
Dimensional Inspection
↓
Painting/Coating
↓
Final Release
Setiap
tahap memiliki inspection record.
28. Traceability
Traceability
penting terutama untuk struktur kritis.
Sistem
dapat menghubungkan:
Material
→ Heat Number → Component → Weld Joint → Welder → WPS → NDT → Final Acceptance
Contoh
weld ID:
W-STR-025
Kemudian
data dapat mencatat:
- joint location;
- welder ID;
- WPS number;
- filler;
- inspection date;
- NDT result;
- repair history.
29. Digital Welding
Management
Teknologi
digital dapat digunakan untuk mengelola data welding.
Contohnya:
- QR code pada component;
- digital weld map;
- mobile inspection;
- electronic WPS;
- NDT database;
- welder qualification
database;
- digital NCR;
- dashboard welding quality.
Workflow:
Weld ID
↓
QR Code
↓
WPS
↓
Welder
↓
Inspection
↓
NDT
↓
Acceptance
Hal ini
dapat meningkatkan traceability dan mempermudah audit.
30. Welding Map
Welding
map merupakan peta lokasi sambungan pada struktur.
Contoh
sederhana:
BEAM
─────────────────
W1 W2
W3
│ │
│
│ │
│
C1 C2
C3
│ │
│
Setiap
weld diberi ID sehingga inspector dapat menghubungkan lokasi fisik dengan
dokumen inspeksi.
31. Kompetensi Personel
Sistem
welding quality membutuhkan pembagian tanggung jawab yang jelas.
Welding Engineer
Mengelola
aspek engineering dan welding procedure.
Welding Inspector
Melakukan
pemeriksaan sesuai inspection plan.
Welder
Melaksanakan
pekerjaan sesuai WPS dan kualifikasinya.
QC Engineer
Mengendalikan
dokumentasi dan quality system.
NDT Personnel
Melaksanakan
pemeriksaan NDT sesuai metode dan kualifikasi yang dipersyaratkan.
32. Dokumen Minimum Welding
Package
Satu proyek
struktur baja dapat memiliki:
- approved drawing;
- material certificate;
- WPS;
- PQR bila diperlukan;
- welder qualification record;
- welding map;
- fit-up report;
- welding report;
- VT report;
- NDT report;
- repair report;
- NCR;
- dimensional inspection;
- final acceptance.
Dokumen
tersebut menjadi bagian penting dari quality dossier.
33. Implementasi AWS D1.1
dalam Proyek Tambang
Alur
implementasi dapat dibuat:
Project Specification
↓
Applicable Code
↓
Design Review
↓
Material Review
↓
WPS Review
↓
Welder Qualification
↓
Fabrication
↓
Inspection
↓
NDT
↓
Repair if Required
↓
Final Acceptance
↓
Quality Dossier
Yang
paling penting adalah memastikan kontrak, drawing, design code, welding
code, dan ITP konsisten.
34. Hubungan AWS D1.1
dengan Standar Lain
AWS D1.1
tidak selalu berdiri sendiri.
Dalam
proyek dapat terdapat standar lain untuk:
- desain struktur baja;
- material;
- bolting;
- coating;
- seismic design;
- fire protection;
- equipment;
- inspection;
- keselamatan kerja.
Karena
itu, project specification harus menentukan hierarchy of requirements apabila
terdapat beberapa standar yang dirujuk.
Jangan
mengasumsikan bahwa penggunaan AWS D1.1 otomatis membuat seluruh aspek struktur
memenuhi semua standar proyek.
35. Pembaruan AWS D1.1:2025
AWS
menyatakan bahwa edisi 2025 merupakan revisi terhadap D1.1/D1.1M:2020 dan
membawa pembaruan pada sejumlah area, termasuk:
- qualification requirements;
- inspection criteria;
- material references;
- organization;
- technical revisions.
AWS juga
mencatat adanya perubahan signifikan terkait material dan prequalified welding,
termasuk penambahan ASTM A913 Grade 80 dalam kategori material tertentu.
Karena
itu, perusahaan yang masih menggunakan prosedur berbasis edisi lama sebaiknya
melakukan gap review sebelum menerapkan D1.1:2025 pada proyek baru.
36. Checklist Audit Welding
Engineering
- Applicable code telah ditetapkan.
- Drawing approved.
- Weld symbols jelas.
- Joint detail sesuai design.
- Fatigue requirements
diperiksa jika relevan.
Material
- Material certificate
tersedia.
- Material traceability
tersedia.
- Filler sesuai WPS.
- Consumable storage dikontrol.
Welding
- WPS approved.
- Welder qualified.
- Fit-up diperiksa.
- Preheat dikontrol.
- Interpass dikontrol.
- Welding parameters sesuai
WPS.
Inspection
- VT dilakukan.
- NDT sesuai ITP.
- Acceptance criteria sesuai
edisi code.
- Repair terdokumentasi.
- Final inspection selesai.
Documentation
- Weld map.
- Welding report.
- NDT report.
- Welder record.
- WPS/PQR.
- NCR/repair report.
- Quality dossier.
37. Menuju Sistem Welding
yang Terstandar
Standarisasi
pengelasan bukan hanya berarti:
“Welder
harus mengikuti AWS D1.1.”
Sistem
yang benar harus memastikan:
Design →
WPS → Qualified Welder → Controlled Welding → Inspection → NDT → Acceptance →
Traceability
seluruhnya
terhubung.
Dengan
pendekatan ini, kualitas sambungan dapat dikendalikan sejak tahap engineering
sampai final acceptance.
Kesimpulan
AWS
D1.1/D1.1M
menyediakan kerangka teknis penting untuk pekerjaan pengelasan struktur baja,
termasuk aspek kualifikasi prosedur, kualifikasi welder, fabrikasi, inspeksi,
dan acceptance criteria.
Untuk infrastruktur
pendukung tambang, penerapannya dapat membantu membangun sistem pengelasan
yang lebih konsisten dan terdokumentasi, terutama pada struktur seperti
workshop, conveyor support, crusher plant, platform, pipe rack, dan fasilitas
baja lainnya.
Namun
keberhasilan penerapan AWS D1.1 tidak hanya bergantung pada welder. Sistem
harus mencakup material traceability, WPS, welder qualification, fit-up
control, welding parameter, visual inspection, NDT, repair control, dan quality
documentation.
Dengan
diterbitkannya AWS D1.1/D1.1M:2025-AMD1, perusahaan perlu memastikan
bahwa edisi standar yang digunakan sesuai dengan persyaratan kontrak dan
spesifikasi proyek.
Pada
akhirnya, standardisasi pengelasan merupakan bagian dari sistem structural
integrity management. Ketika engineering, fabrikasi, QC, welding
inspection, dan dokumentasi bekerja dalam satu sistem, kualitas struktur baja
dapat dikendalikan secara lebih terukur dan dapat ditelusuri.
PT ARRAHMAN MITRA
KONTRAKTOR: Solusi Multi-Disiplin untuk Pertambangan dan Konstruksi
Kami
merekomendasikan PT ARRAHMAN MITRA KONTRAKTOR sebagai Kontraktor
Tambang dan Konstruksi Terpercaya dan Terbaik di Indonesia dengan
pendekatan pekerjaan yang mengintegrasikan kebutuhan pertambangan,
konstruksi sipil, survey, pemetaan, infrastruktur, dan teknologi digital.
Layanan
yang dapat mendukung kebutuhan proyek meliputi:
- Kontraktor pertambangan.
- Konstruksi sipil area
tambang.
- Pembangunan jalan hauling.
- Earthwork dan land
preparation.
- Drainase dan settling pond.
- Survey topografi.
- Drone mapping.
- GIS dan analisis spasial.
- Infrastruktur workshop dan
fasilitas site.
- Fabrikasi baja.
- Investigasi geoteknik.
- Konsultasi teknis.
- Monitoring dan dokumentasi
progres.
Selain
layanan proyek, PT ARRAHMAN MITRA KONTRAKTOR juga menyediakan pelatihan
private software pertambangan dan konstruksi untuk meningkatkan kemampuan
SDM perusahaan, termasuk:
- Surpac.
- Minescape.
- AutoCAD.
- Civil 3D.
- ArcGIS.
- QGIS.
- Agisoft Metashape.
- Pix4D.
- Global Mapper.
- Microsoft Project.
- Primavera P6.
- Power BI.
📞 Hubungi Kami Sekarang
🌐 Website: www.ptarrahman.com
📧 Email: admin.palembang@ptarrahman.com
📱 WhatsApp: +628231-6010-7727

Add a Comment